Popular Post

Posted by : Unknown Jumat, 17 Mei 2013


Maaf, jika aku masih sulit mengertimu, bukan karena aku sendiri yang membuat keadaan menjadi semakin rumit. Aku memohon dengan sangat akan pengertianmu. karena aku sudah terjajah oleh rindu yang selalu membelenggu, semoga kau mengerti. 

A: Tapi kenapa kamu selalu mendahulukan rasa kesalmu? Aku tahu kamu sibuk dan butuh waktu banyak. Tapi bagaimana denganku? Apa kamu mau aku tidak ada? Jujur aku terluka, jujur aku menangis, tapi kamu seperti tidak mau tahu. Lalu tiba-tiba kamu menyalahkanku? Apa yang harus aku lakukan? Kamu membuatku enggan untuk berkata aku rindu, enggan untuk berkata aku butuh kamu. Apa kamu tahu kalau aku harus selalu mengalah? Aku lelah. Jujur aku lelah dengan kesibukanmu yang sudah mengubahmu.
B: Bukan tujuanku dengan kesibukanku ini untuk membuatmu mengalah. Lain kali, jika kamu merindukanku, carilah kesibukan! Bukankah waktu yang ada di sela kesibukanku selalu kuberikan untukmu. Aku mohon kamu mengerti, aku sibuk dan aku pasti membagi waktu luangku denganmu. Jangan kamu pancing emosimu untuk merusak keadaan yang sudah rusak karena jarak.
A: Lalu, mengapa kamu terus saja menyalahkanku? Aku kurang peka, aku mengerti rindumu, aku terlalu sibuk. Selalu itu yang menjadi alasanmu.
B: Sudahlah, aku tidak ingin kita ribut. Aku ingin kita baik-baik saja. Sekarang aku sudah ada, jangan gunakan waktu luangku ini untuk bertengkar.
A: Terserah padamu, jujur aku lelah.
A: Atas dasar apa kamu menyuruhku untuk sibuk agar bisa melupakan rasa rinduku? Mana mungkin aku bisa seperti itu? Aku tidak sepertimu.
B: Kalau terserah aku, mana mungkin aku meladeni amarahmu yang sudah menjajah rasa rindumu ini. Aku menyuruhmu sibuk, agar kamu tahu bagaimana merindu dalam diam, karena diam bukan berarti tidak peduli. Kamu perlu ingat itu!
A: Lalu aku harus bagaimana? Apa harus sepertimu? Jauh dari ponsel? Jauh darimu? Apa kamu bisa? Kamu mau aku melakukannya? Baiklah. 
B: Kamu harus bagaimana? Tidak semestinya kamu sepertiku. Cowok kalo cuek memang bawaan dari sananya. Kalau aku peduli, nanti aku disangka protektif. Jadi, bukankah kamu sudah memahami karakter yang ada padaku. Memangnya aku baru mengenalmu kemarin? Enggak 'kan. Yang harus kamu lakukan adalah sedewasa mungkin bersikap saat kamu merindukanku dan saat kamu menahannya. Sedewasa mungkin. Titik.
A: Dewasa bagimu itu diam tidak banyak bicara, 'kan? Baiklah. Aku memang mengenalmu, tapi kamu yang sekarang tidak seperti yang kukenal dulu. Berkacalah dan tanyakan pada dirimu, apakah kamu bangga bertengkar sesering ini? Pergilah, aku butuh waktu. Kamu senang 'kan, jika bersama mereka? Kau terlihat seperti masih single. Kamu senang seperti itu, 'kan?
B: Aku sudah berkaca beberapa kali pada diriku sendiri. Aku masih sama seperti dulu, hanya keadaan memang sudah berbeda. Kamu tahu bagaimana aku dulu? Dulu aku tidak sesibuk sekarang. Dulu aku masih pelajar, sedangkan sekarang aku sudah kuliah, sudah bekerja. Coba kau pahami, pahami aku. Aku bekerja. Aku mengumpulkan uang. Suatu saat nanti, jika uang itu terkumpul, aku akan menemuimu. Coba pikirkan, untuk apa aku sibuk?
A: Seperti itu? Kamu dulu bisa membagi waktumu dengan baik. Kenapa? Apa kamu tidak suka jika aku membutuhkanmu? Apa kamu tidak suka jika hanya kamulah yang bisa menenangkanku? Kenapa kamu selalu menyalahkanku kembali? Kenapa kamu selalu menyudutkanku? Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Membuatku merasa bersalah? Jahat!
B: Apa? Aku jahat?! Kalau aku jahat, aku sudah berada di tahanan, Sayang, berteman dengan para tersangka koruptor itu. Ah, kamu bercanda.
A: Aku juga memiliki kesabaran yang terbatas. Tapi entahlah, aku rasa kamu selalu menyalahgunakannya begitu saja, karena aku mudah memaafkan. Aku tidak selalu menyudutkanmu. Aku hanya ingin  waktu luang yang kupunya kita gunakan dengan sebaik-baiknya, seromantis dulu. Aku tidak bercanda. Aku lelah. Aku tidak mengerti harus berbuat apa lagi.
B: Dan coba pikirkan, untuk apa kamu marah-marah dan kalah dengan rindumu itu? Apa untuk membuat hubungan kita semakin buruk?
A: Dan coba kembali berpikir, kenapa kamu selalu menganggap enteng setiap masalah yang muncul?
B: Aku tidak selalu menganggap masalah itu enteng. Bukannya aku diam, tapi aku selalu dihadapkan dengan masalah yang itu-itu saja. Kamu paham, 'kan?
A: Itu-itu saja? Dan aku tidak berhak lelah, katamu?
B: Tidak seharusnya kamu lelah denganku. Aku mau kamu, kamu yang dulu. Dulu kita begitu harmonis menerima keadaan kita. Keadaannya jelas sama saja seperti sekarang, hanya saja perasaan lah yang membuat kita semakin berbeda. Karena terlalu sayang, terlalu takut kehilangan, takut aku yang jauh ini berpaling darimu? Aku sama sekali tidak ingin berpaling. Aku tetap dan sama saja seperti dulu. Jangan ombang-ambingkan kita, hingga menyulitkan kita untuk bertahan. Aku mau kita seharmonis dulu. Oke? Ingat itu!, Dan saat ini, waktu yang aku punya untuk menghubungimu kali ini, kita gunakan untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak penting seperti ini. Per-cu-ma.

"Dear girls: sudahkah kalian gunakan waktu luangnya untuk mengharmoniskan keadaan dan tidak menuntut semua waktu yang dia punya untuk kalian saja, seegois itukah kalian?"

"And dear boys: sudahkah kalian semaksimal mungkin menenangkannya saat dia sudah mulai kalut akan kerinduannya terhadap kalian? Mengertilah, jangan hanya diam, karena diam sama saja seperti memberinya kesempatan untuk merindukan sosok kalian yang dulu kepada orang lain."

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ♥MUCHUW♥ - Andy MUCHUW - Powered by Blogger - Designed by Andy Voulfoxcy -

Sexy Pink Heart